Pemberitaan Injil Kasih Karunia Menyelamatkan. Pemberitaan Injil Yang Lain adalah Pelayanan Yang Mematikan


Shalom saudara pembaca. Saya mau sampaikan sebuah pengalaman yang membuat saya tidak akan pernah meninggalkan pelayanan pengabaran Injil Kasih Karunia. Karena lewat mendengar khotbah kasih karunia yang saya sampaikan, seorang young single mother (nama dirahasiakan) yang sudah mempunyai anak bersaksi bahwa ia tadinya mau bunuh diri karena merasa dosanya terlalu dalam, tapi tidak jadi bunuh diri karena ia akhirnya ia tahu bahwa dosanya (yang menurut dia tidak mungkin bisa diampuni) sudah diampuni secara utuh oleh Bapa di Surga.

Suatu saat saya pernah berkhotbah mengenai anak yang terhilang, tentunya anda tahu cerita ini terdapat di Injil, dan sudah sering kita dengar sejak kita sekolah minggu. Dalam khotbah tersebut saya katakan bahwa ada seorang anak yang minta bagian warisan miliknya kepada bapanya, dan setelah ia mendapatkannya, anak itu menghabiskan hartanya dengan cara yang salah. Ia jatuh ke dalam kemiskinan dan kejatuhan karena kesalahannya sendiri, bukan karena kutuk. Sampai-sampai ia harus share dengan babi untuk bisa makan. Dari seorang anak muda yang kaya jatuh kepada kehancuran yang paling hina.

Suatu ketika anak yang meninggalkan rumah bapanya itu, di tengah-tengah kemiskinan dan kehancuran hidupnya, ia teringat kepada bapanya dan rumah bapanya. Jadi ia ingat bapanya bukan karena bertobat, bukan karena ia cinta bapanya, bukan karena ia mengenal kasih bapanya. Bukan! Ia teringat kepada rumah bapanya karena Ia lapar. Ini sebagian besar motivasi orang kristen saat mereka ke gereja, mereka mau kesembuhan, berkat dan kelepasan. Saudara harus tahu bahwa Bapa tidak masalah dengan berbagai motivasi tersebut, it's okay. Lihat saja ketika anak yang terhilang tersebut masih jauh, bapanya berlari menghampirinya, memeluknya, menciuminya. Inilah kasih Bapa di Sorga!

Saya sampaikan dalam khotbah saya, sekalipun dosa saudara terlalu jauh, terlalu dalam dan terlalu besar; jangan pernah ragu untuk putar balik dan kembali kepada Bapa di Surga sebab pengampunannya tersedia bagimu. Ia selalu menunggumu, engkau adalah anakNya, engkau ada di hatiNya.

Setelah beberapa hari kemudian setelah saya berkhotbah, saya mendapati seseorang mengirimkan saya e-mail. di dalam email tersebuat dia jelaskan bahwa ia adalah seorang young single mother dan sudah mempunyai anak di luar nikah. Dan selama ini ia selalu jatuh dan bahkan hidup di dalam dosa (tidak dijelaskan dosa apa) dan ia berpikir bahwa sebaiknya minggu-minggu itu ia mau bunuh diri karena dosanya sudah terlalu besar. Tetapi setelah mendengar khotbah saya, demikian isi e-mail yang ia kirim, ia memutuskan tidak jadi bunuh diri karena Ia tahu sekarang bahwa Bapa sangat merindukannya, dan dosanya yang begitu besar bukanlah masalah yang dapat menghalanginya untuk bisa menghampiri Bapa. PengampunanNya tersedia sempurna.

Saya bersukur kepada Tuhan dan saya bersukacita, satu orang diselamatkan saya percaya Sorga bersuka ria. Itu sebabnya saya akan terus memberitakan Injil Kasih Karunia sampai kapanpun, seperti Alkitab katakan baik atau tidak baik waktunya, karena saya percaya Firman Tuhan tidak pernah kembali dengan sia-sia tetapi berakar, bertumbuh dan pastikan untuk berbuah. Jadi berhentilah memberitakan penghakiman, membuat kekristenan sebagai agama yang penuh syarat yang bahkan tidak pernah disampaikan oleh Yesus. Sebab kasih karunia bukanlah doktrin gereja, bukan sekedar pengajaran, tetapi kasih karunia adalah seorang pribadi, dan pribadi itu namaNya Kristus Yesus. Tuhan memberkati!

Roh Kudus adalah Seorang Pribadi


Saya akan menceritakan pengalaman saya berjumpa dengan Roh Kudus ketika saya berada di asrama Bukit Cimahi saat dalam proses belajar di Proskuneo School of Worshiper pada tahun 1999. Kami punya jadwal bergiliran untuk pelayanan sebagai Worship Leader, Pembicara, Pemain Musik dan Singer. Saya sudah sering mendapatkan jadwal sebagai WL dan pemain keyboard. Tiba saatnya suatu ketika saya melihat nama saya dalam jadwal pelayanan sebagai pembicara. Hati saya saat itu begitu bersukacita tapi juga bercampur deg-degan. Kenapa bersukacita? Karena saya dijadwalkan sebagai pembicara! Belum pernah seumur hidup saya, saat itu umur saya 19 tahun, menjadi seorang pemberita firman. Saya sangat menanti-nantikan itu. Saya tidak pernah perduli bila orang menertawakan saya ketika mereka bertanya kepada saya sejak saya SMA mengenai cita-cita saya dan saya selalu menjawab menjadi pendeta. Kenapa? I don't know, I just like it! Saya tidak tahu alasannya, yang saya tahu saya senang saja menyampaikan firman Tuhan di depan orang lain. Tapi saya juga merasa deg-degan karena saya belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. That was my first time.

Saya mengumpulkan banyak buku, membaca banyak buku dari perpustakaan, dan melakukan banyak doa pribadi sebagai persiapan saya untuk menyampaikan khotbah pertama saya. Tapi itu tidak pernah berhasil. Semakin banyak saya baca buku semakin deg-degan hati saya. Saya sangat ketakutan karena harus berkhotbah di depan hamba-hamba Tuhan dan juga di depan orang-orang yang secara usia lebih senior daripada saya. Suatu hari saya dipimpin Tuhan untuk membaca sebuah buku yang memberitahu kepada saya bahwa saya punya seorang penolong yaitu Roh Kudus. Buku itu menceritakan bahwa Roh Kudus bukan hanya suatu kuasa dan bukan juga suatu kekuatan, tapi Dia adalah seorang pribadi. Roh Kudus bisa kita undang dalam hidup kita sebab Ia selalu mengetuk pintu hati kita dan kalau kita membuka hati kita dan mengundang Ia masuk maka Ia akan masuk dan tinggal bersama-sama dengan kita.

Dan suatu malam saya kemudian berdiam diri di gua doa dan saya katakan dengan sederhana saat itu "O Lord, I surrender" dan saya undang Roh Kudus masuk ke dalam gua doa dengan berkata "Roh Kudus masuklah ke gua doa ini, aku mengerti sekarang bahwa Engkau adalah seorang pribadi. Roh Kudus aku mau berduaan denganMu. Roh Kudus dekap aku dengan mesra. Bahkan penuhi setiap titik ruangan ini dengan kehadiranMu. Penuhi aku ya Roh Kudus." Kemudian saya berdiam diri. 5 menit pertama belum terjadi apa-apa. Saya tetap menanti-nantikanNya. Setelah 10 menit tetap juga tidak terjadi apa-apa dan saya tetap berdiam diri tanpa berkata sepatah katapun dan tetap menantikanNya. Setelah 15 menit berlalu tiba-tiba saya merasakan kehadiranNya. Tubuh saya seakan-akan dialiri aliran yang sangat sejuk tetapi sangat kuat. Inilah yang namanya pengurapan secara fisik pertama kali saya rasakan. Roh Kudus tidak akan merasuki saudara. Dia tidak akan masuk secara paksa. Iblislah yang pekerjaannya merasuki sesorang. Iblis akan masuk secara paksa apabila melihat seseorang kosong. Itu bedanya Iblis dengan Roh Kudus. Roh Kudus hanya masuk apabila Ia diundang dan dinanti-nantikan (ingat cerita murid-murid Tuhan Yesus yang diperintahkan Tuhan Yesus untuk menanti-nantikan dan berdiam diri di Yerusalem). Itu sebabnya namanya kepenuhan Roh Kudus bukan kerasukan Roh Kudus.

Malam itu tubuh saya merasakan fenomena yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jiwa saya merasakan sukacita sama seperti sukacita kita berjumpa seseorang yang sangat kita rindukan dan Dia hadir menjumpai kita. Roh saya secara supranatural juga melihat hal-hal yang amazing dimana saya bisa secara roh tahu Dia sebagai seorang pribadi yang sedang memeluk saya, menggendong saya dan bermain-main dengan saya padahal saya bukan lagi seorang anak kecil saat itu.

Setelah saya merasakan perjumpaan dengan pribadi Roh Kudus dan saya membuka mata saya saat itu, saya agak kaget karena saya melihat sekeliling saya basah semua bahkan buku-buku yang saya bawa termasuk alkitab saya basah oleh air mata saya. Dan lebih herannya saya ketika saya melihat jam ternyata saya sudah menghabiskan 6 jam berada di gua doa itu padahal saya merasa saya tidaklah terlalu lama di dalam hadirat Roh Kudus, saya pikir paling lama hanya 15 menit. Itu sebabnya ketika kita dalam hadirat Tuhan seakan-akan waktu terasa begitu cepat dan kita tidak merasa bosan menghabiskan berjam-jam bersamaNya. Indahnya pengalaman yang saya rasakan saat itu, saya dapat merasakan Dia sebagai seorang pribadi.

Saya tidak lagi ketakutan untuk berkotbah pertama kali di depan orang lain. Roh Kudus memenuhi hidup saya dan saya bisa berkhotbah di kali pertama saya pada usia 19 tahun dengan wibawa Ilahi dan penuh pengurapan. Saya senang sekali ketika saya keluar dari ruangan ibadah dan hendak dinner, ada seorang hamba Tuhan senior yang mendatangi saya secara pribadi dan berkata "Terimakasih ya, khotbahmu telah memberkati saya." Saya berkata kepadanya "Terimakasih pak, Tuhan memberkatimu." Dan malam itu saya berkata kepada Roh Kudus "Thank you Roh Kudus"


Kisah Kasih Pastor Edward & Levi Supit


Kalau anda melihat pasangan ini di jalan atau di mall, jangan heran mereka selalu tampak bergandengan tangan, mesra sekali. Mereka mengaku, sampai saat ini setiap naik mobil bareng dan duduk di belakang, mereka selalu bergandengan tangan dan saling pandang. Sampai saat ini Ps. Ed masih tetap membuka dan menutup pintu mobil bagi isterinya yang luar biasa ini.

Jika orang berpikir bahwa pasangan serasi ini bisa tetap mesra karena mereka pasangan yang memiliki banyak kesamaan, orang pasti kecele. Ps. Ed mengaku bahwa dirinya dengan isterinya bagaikan bumi dan langit. Kalau Ed orangnya introvert, Levi extrovert banget. Kalau Ed suka kerapian, Levi rada berantakan : artinya sehabis mandi lantai dan tembok kamar mandi penuh cipratan air, pakaian dan sepatu di lepas atau dilempar kemana-mana(?) sehingga Ps. Ed-lah yang harus memunguti pakaian dan sepatu dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Kalau Ps. Ed memencet odol teratur dari bagian terbawah odol, Levi memencet odol di bagian mana saja yang enak. Kalau Ps. Ed dandan itu lama banget, Levi berdandan yang praktis saja, 'kan dia sudah cantik banget? Kalau Ed menyeruput kopi Starbucks pelan-pelan sambil menikmati rasa dan aromanya, Levi dengan cepat glek glek glek minum kopinya. Kalau Ps. Ed suka menyendiri di pesta pernikahan, Levi suka ketemu dan gaul dengan orang banyak. Banyak lagi perbedaan mereka, namun satu hal kesamaan mereka: mereka berkomitmen untuk menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga mereka. Mereka selalu mencari jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan itu. Misalnya saja, tentang kamar mandi, mereka sepakat untuk membagi kamar mandi: kamar mandi yang satu adalah wilayahnya Levi : boleh berantakan; wilayah sebelahnya adalah kawasan Ps. Ed, rapi sekali, kering dan bersih.

Ps. Ed menuturkan awal dari cinta kasih mereka. Setelah dua tiga kali ditolak cintanya Ed merasa jutek dengan gadis-gadis, sehingga ia lebih suka clubbing dengan teman-teman cowoknya saja. Pada suatu masa liburan, pulang dari Amerika Serikat, Ed dipanggil maminya :
"Ed, ada gadis anaknya teman mama mau minta tolong soal studi di Amrik nih..."
"Males ah, mam!"
"Eh, jangan gitu..."
"Gadis yang ini lain, Ed. Dia cakep lho..."
"Ya, nanti saya telpon deh!"

Ps. Ed yang ogah-ogahan ketemu cewek karena masih trauma akhirnya telpon Levi.
"Bisa ketemu malam ini gak?"
"Jam berapa?"
"Baru keluar rumah jam 9"
"Wah, gawat nih..." pikir Levi, karena di dalam keluarganya aturan sangat ketat, di atas jam 9 tidak boleh keluar rumah atau terima tamu, maka Levi minta izin dulu sama orang tuanya untuk terima tamu jam 9 malam lebih. Untunglah orangtua Levi sudah mengenal keluarga Edward, sehingga Levi boleh menerima tamu malam itu.

Bel berbunyi, seorang gadis lulusan SMA Tarakanita berjalan keluar dari pintu rumahnya menuju pintu pagar yang cukup jauh. Ed menunggu untuk segera melihat wajah gadis itu. Karena pagarnya tertutup, ia hanya bisa melongok dari bagian bawah pintu pagar dan melihat kaki-kaki yang jenjang berjalan menuju dirinya. "Ah, kakinya panjang dan indah.." pikir Ed, berharap pemilik kaki kaki itu adalah gadis yang cantik. Pintu pagar terbuka. Ed kaget karena di depannya ada gadis cantik. Levi kaget karena di depannya ada "oom-oom" karena pada waktu itu Ed yang belum percaya Tuhan Yesus masih bergaya cowok diskotik, pakai gelang rantai di tangannya dan penampilannya ibarat cowok metroseksual.

Mereka mengobrol. Ed menjelaskan informasi-informasi yang perlu diketahui Levi untuk studi di States, namun Ed sengaja tidak menceritakan semuanya, supaya ada alasan buat ketemu Levi lagi, karena saat itu juga terjadi cinta pada pandangan pertama.

Di pihak Levi, memang ia sudah berdoa kepada Tuhan agar ia dipertemukan dengan seorang pendamping hidupnya, tidak usah gonta-ganti pacar, dan saat bertemu Ed, ia tahu bahwa Edward-lah jodoh dari Tuhan.

Sejak saat itu Edward selalu rindu Levi. Bahkan ketika Ed bersama-sama teman-temannya piknik ke Bali, Ed tidak tahan dan kembali ke Jakarta untuk ketemu Levi, padahal ia baru satu hari di sana dari rencana piknik selama empat hari. Sejak saat itu mereka membangun hubungan kasih yang kudus dan berlanjut ke dalam mahligai pernikahan.

Mereka bilang, "Jangan pernah terucap kata-kata 'Kita cerai saja!' dalam perkawinan kita." Karena itu anak-anak mereka yang sangat respek pada kehidupan orang tua mereka mengatakan, "Kalau besar, saya mau jadi seperti daddy dan mami, jadi hamba Tuhan!" Padahal banyak anak hamba Tuhan yang dikecewakan oleh pelayanan orang tuanya, karena orang tua tidak jadi teladan di dalam rumahnya sendiri.

Pekerjaan Yesus yang Sudah Selesai Di Atas Kayu Salib


Shalom saudara yang terkasih. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa hanya ada dua kelompok agama di dunia ini. Yang pertama berkata "Kerjakan!" dan yang satu lagi berkata "Sudah selesai!" Dan hari-hari ini kita juga bisa kategorikan yang satu berkata "Bayarlah!" dan yang satu lagi berkata "Sudah terbayar lunas!"

Ketika Yesus mati di atas kayu salib Dia katakan "Sudah selesai!" Segala sesuatu yang pernah Allah tuntut untuk dikerjakan oleh manusia, telah digenapi oleh Kristus. Dia telah menggenapi seluruh perintah Hukum Taurat dan membayar seluruh hukuman untuk setiap perintah yang gagal dilakukan oleh manusia. Ya, sudah selesai! Dan dengan jalan percaya kepada pekerjaan Yesus yang telah selesai di atas kayu salib kita dibenarkan secara sempurna di hadapan Allah dan berhak untuk menerima setiap berkat.

Inilah kasih karunia itu. Inilah kabar baik itu. Inilah Injil! Dan inilah yang membuat kekristenan unik dan jauh berbeda dari setiap agama. Dalam hukum Taurat, kita dituntut untuk melakukan sesuatu agar Tuhan menerima kita dan memberkati kita. Tetapi kasih karunia berkata kita sudah diterima tanpa syarat dan diberkati dengan berkat yang tidak terukur.

Betapa malangnya jika ada pendeta yang suka mengartikan sendiri ayat Firman Tuhan karena malas belajar secara benar dan hanya ikut-ikutan pelajaran di Sekolah Teologi sampai gelar S2 atau S3 sekalipun tetapi tidak pernah berpikir secara jujur apa itu Injil. Kemudian mereka dengan seenaknya mengubah Injil yang penuh kemuliaan Allah yang menyelamatkan manusia dan diubah menjadi serangkaian perjalanan kerja keras yang penuh omong kosong dan membuat frustasi jemaat. Bahkan yang anehnya ada yang berkata-kata aneh seperti ini: "Jika saudara menaburkan sebuah benih dalam pelayanan saya maka Tuhan akan mematahkan kutuk kemiskinan dari hidupmu!" Ada juga yang lain yang cukup aneh juga berkata "Jika saudara mengirimkan persembahan kasih sebesar xxx kepada ministry/ pelayanan saya maka saya akan mulai berdoa untuk keselamatan orang-orang yang saudara kasihi." Ini super duper aneh.

Roma 11:6 berkata :"Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia bukan lagi kasih karunia." Yesus juga mengingatkan untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi. Orang Farisi adalah orang yang menginginkan saudara membayar sesuatu yang bisa saudara dapatkn secara gratis. Inilah yang dikerjakan oleh legalisme. Itu sebabnya Firman Tuhan mengkonfirmasi bahwa kita sudah dijamin untuk diberkati jika kita percaya pada pekerjaan Yesus yang sudah selesai di dalam Roma 8:32, yang isinya: "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-nya sendiri, tetapi menyerahkannya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia." Tuhan memberkati!

Charles Haddon Spurgeon

Charles Haddon Spurgeon menolak teologi Congregational dari ayahnya. Setelah dewasa, dia dibaptis dan tak lama kemudian, saat menjadi gembala sidang di gereja Baptis dekat Cambridge, Inggris, dia mengetahui karunia-karunia yang Tuhan berikan kepadanya. Ia memiliki karunia berkhotbah dan juga seorang gembala yang memiliki pengaruh rohani yang amat kuat bagi sidang jemaatnya. Sumbangsihnya bagi pemikiran penginjilan tidak akan pernah dapat terhapuskan. Pengajaran-pengajaran mengenai kasih karunia menjadi makanan dan minumannya. Spurgeon adalah ahli teologi paling hebat kesusasteraan sangat luas. Pemikirannya hebat! Meskipun menolak berbagai gelar, ia mampu menjamah semua golongan manusia. Alkitab menjadi pesannya, gudang senjata, keyakinan, dan argumentasinya.


Melalui kesaksian orang-orang yang pernah berhubungan dengannya ditemukan bahwa mereka bersaksi Spurgeon selalu berhubungan dengan Tuhan. Seorang temannya mengenang perjalanannya dengan Spurgeon di dalam kereta api dan beberapa perjalanan lainnya. Ketika mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba Spurgeon berkata, "Teman, aku baru teringat akan sesuatu. Mari kita mendoakan hal ini bersama-sama." Setelah menceritakan pokok doanya, beberapa menit kemudian ia memimpin doa. Ada suatu peristiwa juga dimana pertemuan para diaken, dibahaslah mengenai suatu kebutuhan besar salah satu cabang pelayanan mereka. Kemudian disarankanlah agar hal itu dibawakan dalam doa. Namun Spurgeon menyela, sambil mengambil sehelai kertas dan menulis, "C.H. SPurgeon, 50 Poundsterling," kemudian mengedarkannya kepada yang lain agar menuliskan nama mereka dan jumlah uang yang akan disumbangkan. "Saudara, sekarang kita dapat sungguh-sungguh berdoa," katanya.

Spurgeon adalah seorang penginjil penuh kuasa yang memiliki selera humor yang alami dan memikat, Spurgeon menyampaikan khotbah yang sangat menarik untuk dibaca hingga sekarang. Di London tidak ada gedung yang cukup besar untuk menampung banyaknya orang yang ingin mendengar suaranya. Yang sangat menarik, khotbah-khotbahnya masih terus dicetak sampai seratus tahun kemudian. Dia juga mendirikan perguruan tinggi untuk gembala dan juga panti asuhan yang sampai sekarang masih ada. Ia adalah ahli pidato dan pengkhotbah yang besar yang terus membuat orang orang memenuhi bangku gerejanya sampai kembali ke pangkuan Bapa. Tanggal 18 Februari 1982, London menyaksikan seseorang yang tidak memiliki gelar atau bahkan gelar akademis, sesorang yang tidak memiliki reputasi politik dan juga bukan seorang bangsawan tetapi prosesi pemakamannya dipenuhi pengunjung sejauh dua mil. Peti matinya begitu sederhana, tetapi menurut surat kabar lebih dari 100.000 orang berkumpul mengikuti upacara pemakaman itu sehingga otomatis seluruh penjuru kota London menghentikan semua kegiatan demi menghormati sang almarhum.